Minggu, 02 September 2012

BAGIAN KOMPUTER DAN FUNGSINYA

BAGIAN-BAGIAN KOMPUTER

1. VGA CARD
VGA card merupakan bagian komputer, di dalam CPU yang berperan penting untuk menampilkan output process ke monitor. Tanpa VGA card, layar komputer tidak akan menampilkan apa-apa alias blank. VGA card sendiri ada yang berupa slot tambahan ataupun bawaan produsen motherboard atau disebut juga VGA on board.
gambar VGA card

Bagian-bagiannya antara lain terdiri dari memory dan kipas sebagai pendingin. Fungsinya sama, yaitu menampilkan teks dan gambar ke monitor, hanya warna dan desain yang berbeda, tergantung pihak manufaktur. Kipas dibutuhkan untuk mendinginkan komponen VGA card yang panas, karena bagian ini bekerja cukup berat setiap saat.
VGA card yang terlihat diatas merupakan VGA tambahan, bukan on board (tidak menyatu dengan motherboard). Keuntungan VGA card non on board adalah kita dapat dengan mudah menggantinya dengan yang baru apabila terjadi kerusakan atau ingin meningkatkan performa grafis komputer kita.

2. CASING
Casing merupakan bagian komputer yang berfungsi sebagai pakaian atau pelindung dari CPU. Bentuk yang umum adalah kotak persegi, namun bisa dengan modifikasi bagi mereka yang senang mengotak-atik casing ini.
Selain sebagai pelindung CPU, casing juga bisa berfungsi sebagai pendingin tambahan. Karena biasanya, casing modern saat ini dilengkapi dengan kipas pendingin yang jumlah nya bisa lebih dari satu buah.
Fungsi lainnya yang utama adalah sebagai pondasi untuk menempatkan berbagai bagian komputer lainnya, terutama CPU, seperti motherboard, vga card, soundcard dan lain-lain.
Sebagai pelindung, casing bermanfaat melindungi bagian dalamnya dari kotoran atau debu, dari benturan dengan benda lain, sehingga bagian-bagian yang vital akan aman dan tidak cepat rusak.
Selain fungsi primernya tersebut, casing juga dapat tampil dengan berbagai macam warna dan bentuk yang sesuai dengan keinginan kita. Tentu saja casing hasil modifikasi ini harganya lebih mahal.
Yang terpenting dalam pemilihan casing adalah fungsi utamanya. Sehingga komputer kita berada dalam keadaan yang aman dan terlindungi.

3. POWER SUPPLY
Masih bagian dalam komputer, yang tersimpan dalam CPU yaitu power supply. Sesuai dengan namanya power supply ini berfungsi mengalirkan listrik ke setiap bagian komputer agar dapat berjalan. Yang biasa dipakai di PC rumahan adalah jenis ATX. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini.
Bagian belakang terdiri dari socket penghubung ke monitor dan power listrik. Juga terdapat fan atau kipas angin, yang berfungsi mendinginkan udara di dalam kotak power supply tersebut. Bagian depan terdiri dari kabel-kabel kecil untuk mengalirkan listrik ke setiap bagian di dalam CPU atau motherboard.
Tentu saja listrik yang mengalir sudah minim atau diperkecil. Sedangkan di power supply itu sendiri voltase listrik masih besar, sehingga dilarang keras menyentuhnya.

4. PROCESSOR
Processor merupakan bagian yang sangat penting dari komputer. Ia bisa diibaratkan sebagai otaknya komputer. Yaitu suatu sirkuit elektronik yang berfungsi secara logik merespon dan mengolah segala intruksi yang menghidupkan komputer.
gambarnya Prosesor.
 

Itu adalah gambar processor yang terbaru, baik dari Intel maupun AMD.

5. MOTHERBOARD
motherboard atau mainboard. Merupakan bagian induk atau utama yang berada dalam CPU. Berfungsi sebagai papan circuit dari berbagai macam komponen pendukung lainnya.
Seperti apa sih bentuk motherboard tersebut? 
Di bawah ini adalah contoh gambar motherboard “Gigabyte GA-MA69GM-S2H”.
Anda lihat bagian yang berwarna-warni itu?
Itu merupakan tempat dudukan untuk memasang card-card yang diperlukan, seperti VGA card, memory card, TV Tuner, Video card, dan lain-lain.

6. KEYBOARD, MOUSE DAN MONITOR
Nah, ini bagian inputnya yang terdiri dari keyboard dan mouse. Tahun 1990-an input device hanya berupa keyboard saja. Perkembangan selanjutnya mulai muncul mouse, pen (berbentuk pulpen). Saat ini sudah ada yang input device berupa sentuhan jari (touch screen) dan suara (kalima perintah). Yang umumnya dipakai untuk komputer rumahan adalah keyboard dan mouse. Fungsinya tentu saja untuk memasukan data.


5. Monitor
Yang terakhir yaitu monitor, output sementara, karena hanya tampak buat sementara saja di layar. Fungsinya untuk melihat hasil input ataupun program yang sedang aktif.

6. RAM (Random Access Memory)

Bagian-bagian komputer RAM
Bagian-bagian komputer RAM
Random Access Memory, atau RAM, adalah bagian dari komputer yang digunakan sebagai memori instan. RAM selalu digunakan sebagai penyimpanan lokasi sementara untuk mengeksekusi instruksi dari komputer. Misalnya, jika Anda menjalankan program banyak sekaligus, mungkin perlu meng-upgrade RAM Anda karena komputer menggunakan lebih banyak memori. RAM sampai saat ini ada dalam konfigurasi yang berbeda, seperti Dynamic RAM, atau DRAM, dan SRAM, yang berjalan pada kecepatan yang lebih tinggi.
Random akses Memory, juga dikenal sebagai memori utama, menyediakan penyangga antara hard drive dan unit pengolahan pusat. Ketika file diminta untuk pengolahan, mereka bisa ditransfer dari harddisk ke memori. CPU kemudian memproses file tersebut dan menggantikannya dalam memori.
RAM ini menyediakan penyimpanan sementara yang akan dihapus ketika kekuasaan akan dihapus dari mesin. Penting untuk menyimpan file diubah ke hard drive sehingga mereka bisa disimpan jika daya hilang.

7. Hard Drive

Bagian-bagian komputer Hard disk
Bagian-bagian komputer Hard disk
Bagian hard drive komputer Anda disebut juga hard disk. Pada dasarnya, itu adalah bagian dari komputer yang menyimpan informasi. Jika Anda meng-upload gambar ke komputer Anda, akan disimpan pada hard drive. Kapasitas harddisk diukur dalam megabyte, atau MB, meskipun beberapa toko komputer besar menggunkan terrabytes, atau TB. Meskipun saat ini banyak alternative harddsik / hard drive yang bisa digunakan untuk menyimpan data, tapi penggunaan hard disk masih yang utama.
Sebuah hard drive menyediakan penyimpanan permanen untuk sistem operasi, program dan file pada mesin. Ketika file akan disimpan ke hard drive, meskipun listrik tiba-tiba putus. Hard drive tradisional terdiri dari piring-piring magnet yang berputar saat digunakan. Solid state drive, yang berisi bagian yang bergerak, adalah pilihan lain.
Komputer yang dibuat setelah 2009 biasanya dilengkapi dengan baik drive SATA, yang menggantikan IDE yang lebih tua, atau ATA paralel, teknologi drive, atau solid state drive. Drive SATA menggunakan kabel lebih ramping, sambungan listrik yang lebih kecil, tidak mendapatkan seperti panas dan dapat mentransfer data lebih cepat dari drive yang lebih tua.

8. Optical Drive
Optical drive digunakan untuk membaca dan menulis data. drive yang Anda gunakan untuk membakar / burning  CD, DVD dan Blu-Ray disc. Optical drive dapat berupa pemuatan Slot loading, atau baki dan ada dalam berbagai konfigurasi. Optical drive terhubung langsung ke motherboard komputer.

Selasa, 27 Maret 2012

Situs Kayen

Sebuah Candi Ditemukan di Situs Kayen, Pati

 
Berawal dari hasil peninjauan yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta (Balar Yogyakarta) pada 4 Mei 2011 di Dusun Miyono (Mbuloh), Desa Kayen, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati Jawa Tengah; tim yang dipimpin oleh dra. TM. Rita Istari dengan anggota Hery Priswanto, SS., Agni Sesaria Mochtar, SS., dan Ferry Bagus berhasil mengidentifikasikan beberapa temuan Benda Cagar Budaya (BCB). Di antaranya struktur bata yang masih intact, arca, serta beberapa artefak dari logam dan keramik. Kedatangan tim Balar Yogyakarta ini atas laporan dari warga sekitar Situs Kayen yang di wakili oleh Nur Rohmad (Pengurus Makam Ki Gede Miyono) dan Subono (Kepala Desa Kayen) mengenai tindak lanjut keberadaan Situs Kayen.

Secara astronomis Situs Kayen terletak pada 111 derajat 00’ 17,0” BT 06 derajat 54’ 31.8” LS berada di dataran alluvial yang cukup datar dan Pegunungan Kendeng di Selatannya. Kondisi lingkungan Situs Kayen cukup subur dengan didukung keberadaan Sungai Sombron yang berhulu di Pegunungan Kendeng dan bermuara di Sungai Tanjang.


Sebenarnya temuan di Situs Kayen ini sudah dijumpai pada bulan Agustus 2010, ketika penduduk setempat berniat membangun mushola di sebelah barat makam Ki Gede Miyono. Ketika itu penduduk menemukan bata-bata kuna yang berukuran besar. Pembangunan mushola ini diperuntukkan tempat ibadah bagi para peziarah makam Ki Gede Miyono. Oleh penduduk setempat, beberapa bata kuna tersebut dimanfaatkan untuk membangun Makam Ki Gede Miyono. Menindaklanjuti temuan tersebut, pihak Disbudpora Kabupaten Pati berkoordinasi dengan BP3 Jawa Tengah melakukan identifikasi terhadap temuan tersebut.

Identifikasi temuan BCB oleh Balar Yogyakarta tidak jauh berbeda hasilnya dengan BP3 Jawa Tengah yaitu :

Monumen (bangunan)

Struktur berbahan bahan bata yang masih intact dan terpendam dalam tanah, beberapa temuan bata-bata kuna berukuran tebal 8 – 10 cm, lebar 23 – 24 cm, dan panjang 39 cm, serta komponen bagian dari candi seperti antefiks dan kemuncak di sekitar situs diduga merupakan bangunan candi.

Artefaktual

1. Berbahan bata
· Wadah peripih
· Antefiks
· Kemuncak candi
· Bata candi berpelipit
· Bata bertulis
2. Berbahan batu putih
· Arca Mahakala
· Umpak
· Kemuncak candi
3. Berbahan logam
· Darpana (cermin berbentuk bundar atau lonjong dengan tangkai yang dipahat dengan bagus)
· Piring
· Lampu gantung
4. Berbahan keramik
· Mangkuk
· Buli-buli
· Piring
· Cepuk bertutup
Berdasarkan hasil peninjauan Tim Balar Yogyakarta di Situs Kayen, diperoleh kesimpulan bahwa temuan BCB tersebut mempunyai nilai arkeologi dan kesejarahan yang cukup tinggi dalam kaitan penyusunan historiografi di Indonesia, terutama temuan struktur bata yang diduga sebagai candi ini merupakan temuan baru karena berada di wilayah Pantai Utara Jawa. Temuan candi berbahan bata sejenis banyak dijumpai di wilayah pedalaman Jawa seperti di poros Kedu – Prambanan dan Trowulan.

Rekomendasi akhir dari kegiatan peninjauan tim Balar Yogyakarta dipandang perlu untuk melakukan kegiatan research excavation di Situs Kayen. Tujuan dan sasaran kegiatan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui luas bangunan candi, kronologinya, serta karakter Situs Kayen. Kegiatan penelitian ini perlu dukungan berbagai pihak, antara lain BP3 Jawa Tengah, Disbudpora Kabupaten Pati, media publikasi, serta warga sekitar situs.

Foto beberapa temuan




(Sumber: arkeologijawa.com)

Dja'far Shodiq ( Sunan Kudus )

Dja'far Shodiq: Sunan yang Ramah dan Toleran

Gapura makam Sunan Kudus
Kudus adalah kota kecil, terletak kira-kira lima puluh kilometer dari ibukota Jawa Tengah, Semarang. Kota itu punya banyak sebutan. Di antaranya adalah Kota Kretek. Karena di kota itu, industri rokok tumbuh pesat. Kota itu juga acapkali disebut Kota Niaga. Sebab, sebagian besar warganya berprofesi sebagai pedagang. Namun, lebih dari itu, Kota Kudus adalah kota sarat makna. Kudus teramat istimewa. Karena, dialah satu-satunya nama daerah di Indonesia yang berbahasa Arab.

Namun, Kudus bukanlah sekadar kata Arab tanpa makna. Ia terkait dengan cerita yang sampai kini melegenda. Cerita itu bermula ketika seseorang dari Indonesia menunaikan ibadah haji. Saat itu, Mekkah sedang diserang wabah penyakit yang sulit disembuhkan. Saking parahnya, Raja Arab Saudi sampai mengumumkan sayembara: “Barang siapa yang bisa menyembuhkan warga Mekkah akan diberi hadiah”. Sudah banyak yang mencoba, tapi selalu gagal.

Karena tertarik, orang Indonesia tadi akhirnya turut mencoba. Di depan Ka’bah, yang disebut Multazam, dipanjatkannya do’a yang khusyuk kepada Allah. Ia memohon kekuatan untuk menyembuhkan penduduk Mekkah. Allah mendengar do’a tersebut dan mengabulkannya. Warga Mekkah dan keluarga Kerajaan Arab Saudi pun sembuh dari penyakit yang mengganas itu.
Sebagai hadiahnya, Raja hendak memberikan emas dan uang. Namun, sang “penyembuh” menolak secara halus. Ia berdalih bahwa kesembuhan rakyat Mekkah karena kehendak Allah. Tapi, raja bersikeras. Walau dipaksa terus-menerus, ia tetap kukuh tidak mau menerima hadiah itu. Sampai akhirnya, ia teringat masjid yang dibangunnya nun jauh di Jawa. “Baiklah Yang Mulia,” ucapnya, “saya hanya memohon sebuah batu yang berasal dari Baitul Maqdis di Palestina. Batu itu akan saya pasang di pengimaman masjid saya di Jawa,” katanya.

Dengan senang hati, Raja pun menuruti permintaannya. Akhirnya, batu mulia itu dibawa pulang dan diletakkan di Mihrab Masjid. Masjid itu kemudian tersohor dengan nama Masjid Kudus. Kata Kudus adalah mashdar, diambil dari kata Maqdis, bentuk Isim Makan dari Qadasa. Ia berarti suci. Daerah di sekitarnya pun kemudian disebut dengan kota Kudus.

Nah, siapa sebenarnya orang itu? Tak lain, dialah Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus. Ia putra pasangan Raden Usman Haji (Sunan Ngudung) dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Menurut cerita, Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia diangkat menjadi panglima perang.

Dja’far Shodiq memang sosok berbakat dan cerdas. Ia dikenal sebagai ulama dengan sejuta talenta. Berbagai pengetahuan dikuasasinya. Mulai dari tauhid, ushul fiqh, hadits, tafsir, sastra, mantiq (logika), dan terutama fiqh. Ia berwawasan luas. Sehingga, ia diberi gelar “Waliyyul Ilmi”. Gelar yang tidak disandang oleh para wali lain.

Ia juga seorang budayawan kreatif. Ia piawai memainkan budaya sebagai sarana dakwah. Konon, cara itu ia pelajari dari Sunan Kalijaga. Karenanya, Sunan Kudus sangat toleran pada budaya setempat sebagaimana gurunya. Bahkan, cara penyampaiannya lebih halus. Sebab itu, para wali yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus, segera menunjuknya.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Demikian pepatah berbahasa. Sunan Kudus pun akhirnya menjadi Senopati menggantikan ayahnya. Ia disebut-sebut sebagai panglima perang yang jago strategi. Ia pernah ditugaskan untuk menyerang Majapahit di masa pemerintahan Girindra Wardana (Brawijaya VI). Penyerangan atas Majapahit itu dilakukan karena ayahanda Raden Fatah, Prabu Kertabumi (Brawijaya V), sudah ditaklukkan oleh Girindra. Kalau tidak segera diselesaikan, nantinya akan mempersulit perkembangan Islam.

Pada perkembangan berikutnya, Majapahit runtuh. Timbul kekacauan. Namun, Sunan Kudus mampu memanfaatkan zaman peralihan. Situasi yang tidak menentu itu dipakai untuk menyebarkan Islam yang ramah dan toleran. Memang, selalu susah mengabarkan kepercayaan baru. Tapi, Sunan Dja’far Shodiq adalah orang yang cerdik. Ia tahu betul bagaimana memainkan psikologi massa. Karena kepiawaiannya memainkan budaya, Sunan Kudus tidak banyak menemukan kesulitan menebarkan Islam di Kudus. Sebab, kota itu sangat kaya akan budaya.

Berdakwah dengan (Ber)Budaya
Dalam berdakwah, Sunan Kudus nampak mengamalkan ajaran ojo nabrak tembok (jangan menambrak tembok). Artinya, tidak melawan arus, tapi mampu mewarnai arus itu. Karenanya, dalam mengenalkan Islam, Sang Sunan tidak serta merta frontal dan mengecam berbagai praktik dan tradisi keagamaan yang ada. Ia tidak menganggapnya penghalang, justru peluang yang harus dimanfaatkan.
Tiga medium budaya lokal dipakai Sunan Kudus untuk berdakwah. Pertama tentu saja bangunan arsitektur Menara. Bangunan Menara adalah kompromi dari tiga tradisi, Islam, Budha dan Hindu. Sengaja, Sunan Kudus menggunakan Menara sebagai tempat untuk berdakwah karena bentuknya yang mirip dengan bangunan candi. Apalagi, beberapa aspek yang melekat pada candi masih nampak kuat terpampang di Menara.

Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sultan Kudus tentang Surat Al-Baqarah yang berarti ‘sapi betina’. Banyak dari mereka yang kemudian masuk Islam. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Versi lain menyebutkan, Sunan pernah mendapatkan air susu dari seekor sapi ketika dirinya sedang kehausan. Karena itu, semasa hidupnya, Sunan Kudus melarang rakyat menyakiti atau pun memotong (menyembelih) sapi.

Kedua adalah medium cerita, pujian dan tembang, baik dalam bahasa Jawa maupun Arab. Semuanya dipakai Sang Sunan untuk menyampaikan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Penyampaian dengan menggunakan tembang dan pujian memang digemari penduduk sekitar. Orang Jawa dikenal sebagai orang yang suka akan lagu dan pujian. Apalagi umat Hindu. Mereka juga kerap menembang untuk memuji Tuhan. Dikaranglah riwayat-riwayat pondok yang berisi filsafat serta berjiwa agama.
Alkisah, Sunan Kudus sering kali menembang di sekitar Menara. Pada awalnya, tembangan itu dipakai untuk memanggil para murid untuk memberitahukan kedatangan bulan Ramadhan. Namun, saking indahnya tembang itu, warga sekitar tertarik dan ikut merubung rombongan Sang Sunan. Momen itu pun akhirnya dimanfaatkan untuk mengenalkan syahadat dan shalawat.
Tradisi itu terus dilakukan, dan dikenal dengan istilah Dandangan, yang sampai sekarang masih dijalankan. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah.

Sunan Kudus juga piawai mencipta tembang Jawa. Tembang Maskumambang dan Mijil adalah buah karyanya. Maskumambang berkisah tentang masa pancaroba anak menuju kedewasaan yang penuh sengsara. Sedangkan Mijil mengajarkan etika dan unggah-ungguh, seperti sikap mengalah (bukan berarti kalah), mau mendengarkan yang lain, menghindari perilaku bergunjing, dan sebagainya.
Ketiga adalah wayang. Penggunaan wayang sebagai media dakwah memang menimbulkan sengketa di kalangan umat Islam. Ada yang mengatakan haram karena berbau Hindu, dan sebaliknya. Hal ini menimbulkan masalah serius. Terutama bagi mereka yang gemar wayang. Itu juga akan mengganggu jalan dakwah yang damai dan toleran.

Karena itu, untuk meminimalisir konflik, timbullah gagasan untuk mereformasi wayang. Wayang dibuat dalam bentuk baru dengan menghilangkan wujud gambaran manusia. Berkat keuletan dan ketrampilan para pengikut Islam yang gemar wayang, terutama para Wali, mereka berhasil menciptakan wayang bentuk baru. Wayang itu disebut wayang Purwa. Ia dibuat dari bahan kulit kerbau yang agak ditipiskan dengan wajah digambarkan miring. Ukuran tangan dibuat lebih panjang dari ukuran tangan manusia, mencapai kaki.

Pada masa berikutnya, wayang pun mengalami berbagai perubahan. Pasca wayang Purwa, muncul wayang Gedog. Ide ini diprakarsai oleh Susuhunan Ratu Tunggal dari Giri. Sunan Kudus pun tak mau ketinggalan. Ia mendesain wayang Golek yang terbuat dari kayu. Lakon pakemnya diambil dari wayang Purwa dan diiringi dengan gamelan Slendro, tetapi hanya terdiri dari gong, kenong, ketuk, kendang, kecer dan rebab. Konon, selama berdakwah, Sunan Kudus sering mengadakan pertunjukan wayang untuk mengumpulkan massa.

Sosok pelakunya pun banyak mengambil tokoh pewayangan. Hanya alur dan latar yang sedikit diubah. Pesan-pesan serta nilai Islam pun dipaparkan lewat adegan wayang. Nilai-nilai seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, menghargai yang lain juga ditanamkan. Metode ini sangat efektif. Karena, saat itu pagelaran wayang adalah tontonan yang paling banyak diminati orang. Dakwah model ini terbukti mengenai sasaran, merakyat dan tidak elitis. Sebab, Sang Sunan dan rakyat adalah bagian yang saling melengkapi.

Dengan pendekatan budaya, Sunan Kudus mampu meng-Islam-kan para penganut Hindu dan Budha. Merekapun tidak merasa jengah karena sang Sunan sangat ramah. Mereka bisa ber-Islam sekaligus melaksanakan tradisi yang sudah dijalankan dari generasi ke generasi. Tentunya, kemasan tradisi itu sudah (sedikit) berubah karena pengaruh Islam. Namun, hal itu tidak mengganggu karena, di saat yang sama, mereka juga berubah, dari Hindu dan Budha menjadi muslim yang sempurna. Apa yang dilakukan Sunan Kudus adalah warisan yang sangat berharga. Selayaknya, generasi penerus meneladaninya.
--el barr--
 
Sunan Kudus menikah dengan Dewi Rukhil, puteri dari Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) di Tuban. Sunan Bonang adalah putera Sunan Ampel. Sedangkan Sunan Ampel adalah putera Maulana Ibrahim as-Samarkandi. Di sinilah, bertemu silsilah Sunan Kudus dengan isterinya; Dewi Rukhil adalah cicit Maulana Ibrahim Samarkandi, sementara Sunan Kudus adalah cucu Maulana Ibrahim Samarkandi. Sunan Kudus dan Dewi Rukhil hanya memiliki anak laki-laki bernama Amir Hasan.
Satu riwayat mengatakan, dalam perkawinannya dengan puteri Pangeran Pecat Tandaterung dari Majapahit, Sunan Kudus memperoleh delapan orang anak, yaitu: Nyi Ageng Pembayun, Panembahan Palembang, Panembahan Mekaos Honggokusumo, Penembahan Kodhi, Panembahan Karimun, Panrmbahan Sujoko (wafat ketika masih muda), Ratu Pakojo dan Ratu Probobinabar (menikah dengan Pangeran Poncowati).

Sang Sunan lahir sekitar abad ke-15 dan diperkirakan wafat pada 1550 M. Jasad beliau disemayamkan di belakang Menara Kudus. Di komplek makam itu, disemayamkan juga para prajurit serta keluarga Sunan. Namun, di antara kedelapan anaknya, hanya empat orang yang kini makamnya berada di sekitar makam Sunan Kudus, yakni Panembahan Palembang, Panembahan Mekaos, Pangeran Poncowati, dan Pangeran Sujoko.

Sampai sekarang, makam Sunan Kudus banyak dikunjungi orang. Tak hanya orang Kudus, tapi juga kaum muslim yang tersebar di Nusantara. Itu wajar, karena banyak hal bisa diteladani dari Dja’far Shodiq Sang Sunan

Sunan Muria

Sunan Muria, Belajar Bersama Rakyat


Masjid Sunan Muria
Sunan Muria dikenal sebagai sunan rakyat jelata. Ia akrab dan hidup di tengah-tengah mereka. Ia tak sudi menghambakan diri pada kekayaan dan kekuasaan. Di saat, para wali lain hidup di pusat kota, ia malah mengasingkan diri di daerah pegunungan. Namun, ia tak meninggalkan dakwah Islam. Justru, “pengasingan” itulah yang menjadikannya dai yang ramah dan toleran.

Nama aslinya Raden Umar Said atau Raden Prawoto, putra Sunan Kalijaga dan Dewi Saroh. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan literatur keagamaan. Juga kesenian. Nampaknya, ia menuruni bakat ayahnya yang gandrung akan kesenian.

Berbeda dengan ayahnya yang berdakwah dengan berkeliling di daerah abangan, Sunan Muria banyak bertugas di daerah Kudus. Terutama bagian utara, di lereng Gunung Muria. Itu karena ia memang memfokuskan diri pada daerah yang jauh dari pusat kota atau keramaian. Ia tinggal dan mendirikan sebuah pesantren di sana. Konon, ia sengaja mencari tempat terpencil karena hidup di tengah kota jauh lebih banyak cobaannya dibanding hidup di daerah terpencil.

Di samping itu, memang sudah wataknya suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa, berbaur bersama rakyat jelata. Sebab itulah, ia sengaja memilih lereng Gunung Muria sebagai tempat berdakwah. Berbeda dengan Kudus bagian tengah yang mengalami kemajuan secara infrastruktur. Tempat itu terletak 18 km di sebelah utara pusat kota Kudus. Meski demikian, putra Sunan Kalijaga itu juga rajin berdakwah di daerah tetangganya seperti Jepara, Tayu, Juana dan Pati.

Metode dakwah yang dipakai oleh Sunan Muria adalah mengadakan kursus-kursus pada kaum dagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Itu sangatlah efektif karena mereka adalah kaum pekerja yang tidak bisa berkumpul setiap saat. Dengan memberikan kursus, maka mereka bisa meluangkan waktu khusus untuk belajar agama. Di samping itu, tak jarang, Sunan Muria juga mengajarkan berbagai keterampilan seperti bercocok tanam, berdagang, dan melaut kepada rakyat.

Jalan kesenian untuk memperakrab masyarakat dengan Islam juga tak ia tinggalkan. Kabarnya, Sunan Murialah yang mempertahankan tetap berlangsungnya gamelan sebagai media dakwah. Baginya, bermain gamelan dengan menembang bisa dipergunakan untuk memasukkan nuansa ke-Islam-an di dalamnya. Nampaknya, ia paham betul, bahwa masyarakat yang dihadapi memang masyarakat yang benar-benar abangan dan masih susah meninggalkan tradisi.

Apalagi, berdakwah di lereng Muria. Sebagian besar mereka adalah pemeluk Hindu taat yang “lari” dari dakwah Sunan Kudus di sekitar Menara. Itu menjadi bukti bahwa tidak mudah mendekati mereka. Karena itulah jalur kesenian tetap harus dipergunakan. Dengan jalan itu, ia bermaksud membuat masyarakat di sekitarnya merasa nyaman, sehingga lebih bisa menerima dan mencerna ajaran-ajaran untuk mengingat Allah SWT.

Sunan Muria rajin mengarang tembang-tembang Jawa untuk memperkuat ingatan masyarakat akan nilai-niali Islam. Bahkan, ia dikenal sebagai pencipta tembang Sinom dan Kinanti. Tembangnya yang populer dilantunkan dalang pada zaman sekarang adalah Sinom Parijotho. Parijotho adalah nama tumbuhan yang hidup di lereng Muria.

Sebagai salah seorang anggota walisongo, ia juga sangat berperan dalam membangun Kerajaan Demak. Ia merupakan salah satu pendiri dan penyokong yang setia. Bahkan karena wataknya yang halus dan ramah serta berpikiran luas, ia sering diminta untuk memecahkan berbagai masalah. Konon, betapa pun rumitnya masalah itu, Sunan Muria mampu meberikan jalan yang terbaik.

Ia juga sering diminta menjadi penengah dalam berbagai konflik. Termasuk konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Sebagaimana tertulis dalam sejarah, sepeninggal Raden Fatah, Kesultanan Demak menjadi geger karena banyak yang memperebutkan takhta kerajaan tersebut. Tercatat, sekitar empat kali Demak mengalami pergantian pimpinan. Hebatnya, solusi pemecahan yang ditawarkan oleh Sunan Muria selalu dapat diterima oleh pihak-pihak yang berseteru.
Sunan Muria menikah dengan Dewi Roroyoo, putri gurunya, Ki Ageng Ngerang. Konon, ia diambil 
mantu gurunya setelah melalui sayembara. Suatu ketika, Ki Ageng Ngerang melaksanakan tasyakuran ulangtahun anaknya, Dewi Roroyono yang genap berusia 20 tahun. Banyak tamu yang datang. Termasuk para adipati. Karena tertarik akan kecantikan Dewi Roroyono, banyak tamu yang berdecak kagum. Sehingga, sebagian dari mereka yang tidak tahu diri mencari jalan untuk menggodanya. Karena tak sudi dengan ulah tamu yang berangasan, Dewi Roroyono pun tak meladeninya.
Pada malamnya, timbul masalah. Dewi Roroyono hilang dari kamarnya. Ternyata, ia diculik oleh salah seorang adipati yang menjadi tamu malam itu. Kontan, itu membuat geger. Lalu, diadakanlah sayembara. Barang siapa yang mampu mengembalikan Dewi Roroyono, berhak memperistrinya. Sunan Muria pun menyanggupinya. Setelah berusaha mencari, akhirnya Sunan Muria menemukan tempat persembunyian penculik tersebut. Iapun berhasil memboyong pulang Dewi Roroyono dan kemudian menikahinya. Dari pernikahan itu, Sunan Muria memperoleh seorang putra yang diberi nama Pangeran Santri, dan kemudian mendapat julukan sebagai Sunan Ngadilungu.

Sunan Muria wafat dan dimakamkan di Desa Colo pada ketinggian 600 meter dari permukaan laut. Berbeda dengan para wali lain yang makamnya dikelilingi oleh para punggawanya, makam Sunan Muria terlihat menyendiri. Justru para murid yang membantunya dalam berdakwah dimakamkan di tempat yang agak jauh dari makamnya. Itu mungkin disebabkan oleh wataknya yang selalu suka menyendiri.

Sebagaimana makam para wali lain, makam Sunan Muria juga banyak diziarahi, baik dari dalam kota maupun luar kota. Tempatnya yang terjal, tidak menyurutkan para peziarah untuk napak tilas perjalanannya. Pengunjungnya tetap membludak, terutama pada hari libur dan upacara Buka Luwur yang diselenggarakan setiap 6 Muharam. Karena letaknya di lereng gunung, maka untuk mencapai komplek itu ditempuh dengan jalan kaki melewati sekitar 700 undakan (trap) mulai dari pintu gerbang di dekat lokasi parkir mobil/bus. Bisa juga dengan menumpang ojek dengan biaya sekali jalan sekitar Rp. 8000.

Komplek makam Sunan Muria telah dipugar beberapa kali. Karena itu hanya beberapa bagianlah yang masih utuh. Arealnya juga diperluas, terutama di bagian sebelah kanan makam. Banyak bangunan baru, seperti bangunan tempat minum air peninggalan Sunan Muria dan lainnya. Seiring dengan pemugaran dan penambahan bangunan, para penjaga dan karyawan pun bertambah. Kepengurusannya dikelola oleh Yayasan Sunan Muria yang bertempat di sebelah luarnya.

Ibnu Batuta: Tekad Baja, Taklukkan Dunia

Ibnu Batuta: Tekad Baja, Taklukkan Dunia

 
Namanya dikenal sebagai muslim penjelajah terbesar sepanjang sejarah. Minimnya transportasi tak menghalanginya untuk bertamasya dan berziarah. Meski, untuk itu, ia harus kuat dan tabah. Bayangkan, saat itu, ia telah menempuh perjalanan berjarak 75.000 mil, rekor yang tak ada duanya. Ia telah melintas batas dari jazirah Arabia hingga Asia, bahkan Eropa. Para ahli sejarah menyejajarkan namanya dengan Marcopolo, Hsien Tsieng, Drake dan Magellan yang dikenal sebagai para penakluk dunia.

Dialah Ibnu Batuta. Lahir pada 24 Februari 1304 M di daerah Tangiers, Maroko, Afrika Utara. Ia masih keturunan suku Barbar di Lawata. Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad Ibn Abdillah al-Lawati al-Tanji. Ia besar dalam keluarga cerdik pandai. Keluarganya dikenal sebagai pemasok ahli yurisprudensi dan banyak yang menjadi Qadhi (hakim). Batuta kecil banyak belajar fikih dan sastra. Ia tekun, cerdas dan berwawasan luas.

Pada 14 Juni 1325, ia pergi meninggalkan Tangiers untuk menunaikan ibadah haji. Waktu itu, usianya baru 21 tahun. Ia menyeberangi Tunisia dan hampir seluruh perjalanannya ditempuh dengan jalan kaki. Tentunya, ini rekor tersendiri. Medan yang dilalui begitu sulit. Transportasi pun berbelit. Tak banyak yang diandalkan. Tanpa tekad yang kuat, tak mungkin perjalanan itu ditempuh.

Ia tiba di Alexandria, Mesir, pada 15 April 1326. Di situ, Batuta menghadap Sultan Alexandria. Karena perjalanan yang ditempuh begitu jauh, Sultan memberinya uang untuk bekal perjalanan. Ia pergi ke Mekkah melalui Kairo, Aidhab sampai Laut Merah. Namun, rute itu banyak penyamunnya. Ia pun kembali ke Kairo dan meneruskan perjalanannya lewat Gaza, Palestina, Hamah, Aleppo serta Damaskus.

Akhirnya, ia sampai di Mekkah pada Oktober 1326. Selama menunaikan ibadah haji, ia bertemu dengan kaum muslim dari berbagai perjuru dunia. Ia melihat aneka suku yang berbeda. Beragam bahasa yang tidak sama. Serta variasi budaya yang beraneka. Hal itu cukup menakjubkannya. Ia tak puas hanya melihat sekilas. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menimba pengalaman ke mancanegara. Dan, untuk itu, ia membatalkan keinginannya untuk pulang. Meski dihunjam rindu yang tak kepalang.

Bertekad Menjelajah Dunia
Mengawali penjelajahannya, ia menyeberangi gurun pasir Arabia. Sampailah ia di Persia (Irak dan Iran). Dari situ, ia sekali lagi pergi ke Damaskus, menuju Mosul dan, kembali lagi ke Mekkah. Batuta pun menunaikan ibadah haji yang kedua kali. Ia malah sempat bermukim di sana selama tiga tahun (1328-1330). Dari Mekkah, ia berlayar ke Somalia menuju pantai-pantai Afrika Timur, termasuk Zeila dan Mambasa. Kemudian, ia meneruskan perjalanannya ke Oman, Hormuz (Teluk Persia) dan Pulau Dahrain. Ia pun menyempatkan diri untuk ke Mekkah dan menunaikan ibadah haji yang ketiga kali pada 1332. Istirahat sebentar, Batuta kembali mengarungi samudera melewati Laut Merah, melewati Nubia, Nil Hulu, Kairo, Syiria dan tiba di Lhadhiqiya. Sesudah itu, ia kembali berlayar menaiki kapal Genoa ke Alaya (Candelor) di pantai Selatan Asia Kecil.

Tak lama berselang, ia melanjutkan perjalanan darat di jazirah Anatolia sampai akhirnya tiba di Sanub (Sinope), sebuah pelabuhan di Laut Hitam. Lalu, ia naik sebuah kapal Yunani menuju Caffa dan menyeberangi Laut Azow sampai ke stepa-stepa di Rusia Selatan. Bahkan, konon, ia sampai di ke Istana Sultan Muhammad Uzbeg Khan di Serai. Tak berhenti di situ, Batuta melanjutkan perjalanan ke utara menuju Balghar di Siberia untuk merasakan pendeknya malam musim panas dan ingin mengalami perjalanan di ‘Tanah Gelap’ (Rusia paling utara). Namun, hal ini urung karena iklim yang teramat dingin.

Ia pun kembali ke Balghar dan diminta mengawal permaisuri Sultan Uzbeg Khan, Khantun Pylon, ke Konstantinopel (Byzantium). Di sana, ia menyempatkan diri menghadap Kaisar Byzantium, Audranicas III (1328-1341). Dari Byzantium, Batuta kembali ke Serai untuk pamit kepada Uzbeg Khan. Lalu, ia menuju ke Bukhara. Terus ke Persia Utara dan Afghanistan, sampai akhirnya tiba di Kabul. Setelah itu, pria Maroko ini menyusuri sungai Sind dan tiba di Bakkar. Lalu, ia berjalan melewati kota Uja (Uch), pusat dagang di tepi Sungai Indus dan sampai di Multan. Dari Multan, ia melanjutkan perjalanan ke Delhi. Jaraknya cukup jauh dan bisa ditempuh kira-kira 40 hari perjalanan.
Sebelum tiba di Delhi, ia sempat singgah di Ajudhan (Pakpattan), sebuah kota kecil tempat mukim Syekh Fariduddin yang saleh. Ia lalu menghadap beliau. Di sini, untuk pertama kalinya ia melihat ‘Sati’. Sesampainya di Delhi, ia ditunjuk menjadi Qadhi negara oleh Sultan Muhammad Tughlaq. Ia tinggal selama delapan tahun di Delhi. Kemudian, ia dilantik oleh Sultan untuk menjadi Duta Besar di Kerajaan China. Namun kemalangan menimpanya. Dalam perjalanan, ia dirampok oleh para penyamun di Jalali dekat Aligarh. Harta dirampas, ia pun ditawan. Berkat pertolongan orang misterius, ia bebas dari hukuman dan kembali berlayar menuju Calicut. Tapi, derita kembali menerpanya. Semua barang bawaannya musnah karena kapalnya tenggelam. Sebab itu, Batuta tak kembali ke Delhi. Ia melanjutkan perjalanan ke Maladewa.

Pada 1344, ia mengunjungi Sri Lanka. Lalu, ia berlayar ke timur. Sekitar 43 hari kemudian, tibalah Batuta di Chittagong, Dacca dan Sumatra. Di Sumatra, ia tinggal selama 15 hari sebagai tamu sultan. Dari Sumatra ia kembali berlayar menuju Malaya dan mendarat di Amoy, China. Dari sini, putra Tangiers itu memutuskan membalik perjalanannya. Lewat Sumatra, Malabar, India, Oman dan Persia, menyeberangi padang pasir Palmyra, sampai di Damaskus. Dari situ, Batuta kembali bersimpuh di depan Ka’bah untuk keempat kalinya pada 1348. Pasca menunaikan haji ini, ia menyambung perjalanan melewati Yerussalem, Gaza, Kairo dan Tunisia. Lalu, ia naik perahu menuju Maroko. Ia sempat mengunjungi Dardinia dan tiba di Fez, ibu kota Maroko pada 8 November 1349.
Sebelum benar-benar menetap di Maroko, ia menjelajah lagi. Tercatat, ia melakukan perjalanan dua kali. Pertama, ia menyeberangi gurun pasir Sahara di Afrika Tengah hingga mencapai Timbuktu. Kedua, ia menyambangi Eropa, terutama Spanyol, Romawi timur serta Rusia Selatan. Ia kembali ke Fez pada 1354 dan menetap di sana.

Merenda Pengalaman Lewat Tulisan
Perjalanan panjang yang ditempuh oleh Ibnu Batuta memang mengesankan. Banyak hal ia alami. Ragam kehidupan ia selami. Diperkirakan, jarak yang ia tempuh sejauh 75.000 mil telah melampaui rekor perjalanan Marcopolo. Sepanjang kelananya, ia telah mengunjungi hampir seluruh negara muslim di tiga benua, Asia, Afrika, dan Eropa. Dan sering kali, Batuta bertemu dengan para pemimpin negara-negara itu. Banyak pengalaman menarik yang enak untuk disimak.

Di antaranya adalah perjalanan Batuta ke daerah Kabul, Afghanistan. Di pegunungan Hindu Kush, ia bertemu dengan seseorang yang, konon, berusia 350 tahun. Lebih aneh lagi, menurut penuturan orang itu, gigi barunya tumbuh setiap seratus tahun. Di daerah Sind, ia juga menyaksikan hal yang menakjubkan. Ia melihat seekor badak untuk pertama kalinya di sana. Ia juga bertemu dengan suku ‘Samira’ yang mendiami daerah Janani. Menurut Batuta, mereka tidak pernah makan bersama orang lain. Tidak mau pula menikah dengan orang di luar marga mereka.

Di Siwasitan, masih daerah Sind, ia juga menyaksikan pemandangan unik. Kota itu terletak di tengah gurun pasir yang luas. Tak ada tanaman yang tumbuh di sana kecuali labu. Makanan penduduk daerah itu adalah sorgum dan kacang polong yang dibuat roti. Di samping ikan dan susu kerbau, mereka juga makan sejenis kadal yang diawetkan dengan kurkum (sejenis kunyit). Batuta pernah mencoba memakannya. Namun, ia merasa jijik hingga urung makan.

Di Ajudhan, untuk kali pertama, Batuta menyaksikan ‘Sati’. Waktu itu, ia sedang berkunjung ke rumah Syekh Fariduddin. Tapi, tiba-tiba, banyak orang bergegas keluar. Batuta pun bertanya, ada apa gerangan. Mereka menjawab, ada seorang Hindu yang baru saja meninggal. Maka, dipersiapkanlah api untuk membakar jenazahnya. Yang mencengangkan, sang istri akan turut membakar diri bersama jenazah suaminya. Ia sempat menyaksikannya. Ia juga melihat kaum Hindu yang mandi di sungai ‘suci’ Gangga.

Perjalanannya menuju Sumatra juga memukau. Batuta bercerita, dalam perjalanan itu, ia dan kawan-kawannya merasakan laju angin yang segar. Laju angin tersebut membawa kapal yang mereka tumpangi menyeberangi lautan China. Hingga tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh angin kencang yang menggoncang kapal. Seketika, cuaca berubah gelap. Hujan pun turun lebat. Hal ini berlangsung terus menerus. Selama sepuluh hari, mereka tidak dapat melihat matahari. Kapal terus berlayar hingga memasuki sebuah lautan yang tak dikenal. Para penumpang pun resah. Mereka ingin kembali ke China. Namun, karena cuaca yang tidak bersahabat dan tersesat di daerah asing, mereka pun pasrah. Selama 42 hari, mereka terapung di atas lautan tanpa arah. Keesokan harinya, saat fajar menyingsing, mereka terkejut. Ada gunung besar di depan mereka. Gunung itu berjarak 20 mil dari kapal yang mereka tumpangi.

Maka semua penumpang pun berdo’a dan memohon kepada Allah agar dijauhkan dari berbagai macam malapetaka. Ternyata, Allah mengabulkan doa mereka. Angin berhenti, perlahan tapi pasti. Suasana pun kembali tenang. Anehnya, mereka melihat gunung itu meninggi dan terbang ke angkasa. Sehingga matahari yang tadinya bersembunyi di balik gunung itu tampak kembali. Setelah diteliti, ternyata, gunung itu adalah burung al-Ruhk. ” Seandainya burung itu melihat kita, maka dia akan melahap dan memangsa kita,” tutur mereka. Akhirnya, mereka pun tiba di Sumatera setelah dua bulan terapung di atas laut yang mengerikan.

Di Sumatera, khususnya di Samudra Pasai, ia disambut oleh Amir (panglima) Daulasah, Qadhi Syarif Amir sayyir asy-Syirazi, Tajuddin al-Asbahani dan beberapa ahli fikih, atas perintah Sultan Mahmud Malik Zahir (1326-1345). Menurut Batuta, Sultan Mahmud adalah penganut madzhab Syafi’i yang giat menyelenggarakan pengajian, pembahasan dan muzakarah keagamaan. “Sultan sangat rendah hati dan berangkat ke masjid untuk shalat Jum’at dengan berjalan kaki. Selesai shalat, Sultan dan rombongannya biasa berkeliling kota melihat keadaan rakyatnya,” ujarnya.
 
Karena terpikat, Sultan Abu Enan dari Maroko meminta Batuta untuk mendiktekan perjalanannya kepada juru tulis sultan, Ibnu Jauzi, untuk ditulis. Catatan tersebut sangat rinci dan menyentuh. Hasil transkrip ini selesai pada 13 Desember 1355. Kemudian dibukukan dan diberi judul Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa Aja’ib al-Asfar (Hadiah bagi Para Pengamat yang Meneliti Keajaiban-keajaiban Kota dan Keanehan-keanehan Perjalanan). Buku ini kemudian dikenal dengan sebutan Rihlat Ibn Batuta atau Rihla (Perjalanan).

Buku ini begitu memukau banyak pengamat di seluruh dunia. Buku ini pun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Di antaranya, bahasa Inggris, Prancis, Latin, Portugis, Jerman dan Persia. Tak heran, sebab, buku perjalanan Batuta adalah buku pengetahuan. Setiap detil cerita adalah rujukan peradaban. Meski ada sejumlah sejarawan yang meragukan kebenaran perjalanan Batuta, sebagian besar mengapresiasinya. Mereka menyebut bahwa cerita Batuta benar dan jujur meski sederhana.
Pada 1377 M, Batuta meninggal dunia. Namun, ia dikenang sepanjang masa. Selama 24 tahun mengelana, ia telah mengarungi Asia, Afrika dan Eropa. Ia adalah penjelajah terbesar sebelum mesin uap ditemukan. Ia telah menggoreskan tinta emas peradaban. Dengan tekad baja, ia menaklukkan dunia.

Sayyid Abdullah al-Haddad: Mujaddid Sufi Abad Ke-17

Sayyid Abdullah al-Haddad: Mujaddid Sufi Abad Ke-17

Ia dikenal sebagai seorang mujaddid Islam. Meski sejak kecil mengalami kebutaan, ia tak pernah berhenti belajar. Pemikirannya begitu matang dan mudah dicerna masyarakat awam. Ia juga menulis banyak karya dengan tema beragam. Dalam kehidupan beragama, pandangannya dikenal ramah dan toleran. Dialah Sayyid Abdullah al-Haddad.

Ia di lahirkan di kota Tarim Hadhramaut pada 5 shafar 1044 H. Ayahnya, Sayyid ‘Alwi bin Muhammad Al-Haddad adalah seorang yang dikenal alim dan saleh. Ibunya seorang syarifah (keturunan langsung perempuan Nabi) bernama Syarifah Salma. Tidak seperti anak-anak lainnya, al-Haddad menghabiskan masa kecilnya untuk menghafal al-Quran, mujahadah al-nafs, dan mencari ilmu. Itu karena saat berusia empat tahun ia terkena cacar yang mengakibatkan kebutaan.

Sejak kecil, ia sudah tertarik dengan dunia sufi. Bahkan, ia selalu “membaca” kitab-kitab Al-Ghazali atau diwan-diwan para ahli dzauq (para sufi). Pada masa itu, ia sudah mendiskusikan masalah-masalah sufistik yang sulit, seperti mengkaji pemikiran Syaikh Ibn Al-Faridh, Ibn ‘Arabi dan Ibnu ‘Atha’illah. Ia dikenal sebagai murid yang cerdas. Karena itulah, guru-guru al-Haddad selalu memintanya untuk tetap mendampingi ketika majelis sudah usai. Nampaknya, gurunya melihat bakat yang luar biasa pada diri al-Haddad.

Dan memang, isyarat bahwa al-Haddad akan menjadi orang besar sebenarnya sudah diketahui sebelum ia dilahirkan. Suatu ketika, Sayyid ‘Alwi mendatangi rumah seorang ‘Alim bernama ‘Arif billah Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi (kakek dari ibu Al-Haddad). Dalam pertemuan itu, al-Habsyi berkata ”Anakmu adalah anakku, di antara mereka ada keberkahan“. Awalnya, Sayyid Alwi heran mendengar kata-kata ini. Sampai lama, ia tidak mengerti maksud perkataan al-Habsyi. Namun, setelah lahirnya Al-Haddad, ia baru faham. Ia mengatakan, “Aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat ucapan Sayyid Ahmad al-Habsyi. Setelah lahirnya Abdullah, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar al-wilayah (kewalian)”.

Menginjak remaja, pengetahuan al-Haddad tentang sufi kian matang. Bahkan, pemikirannya kerap dijadikan rujukan. Pada usia 25 tahun saja, ia sudah mampu menghasilkan sebuah karya penting. Buku itu bertajuk Risalah al-Muzakarah ma’a Al-Ikhwan Al-Muhibbin min Ahl Al-Khair wa Al-Din. Di dalam buku ini ada beberapa nama besar seperti Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husain, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Al-Gazhali, dan beberapa pemikiran para ulama salaf. Pada umur yang sama, ia juga menyelesaikan tulisan yang berjudul Risalah Al-Muawanah wa Al-Muzhaharah yang ditulis sebagai konsumsi masyarakat awam.

Tak berhenti di situ, pada usia 27 tahun, al-Haddad diminta salah seorang tokoh dari kota Syibam untuk menulis sebuah buku pegangan bagi para pengikut tarekat shufiyyah. Buku itu menjelaskan dasar-dasar sebagai murid yang baik, dan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam mengarungi dunia tarekat. Sejak buku itu dibaca oleh umum, makin terlihat sosok ketokohan Al-Haddad dalam masalah-masalah sufistik.

Makin maraklah pertemuan-pertemuan ilmiyah yang mendiskusikan buku tersebut. Korespondensi seputar masalah sufistik juga mengalir deras. Sebab itulah, empat bulan setelah penulisan buku tersebut, ia menerbitkan karyanya yang lain, Ittihaf al-Sail bi Jawab al-Masail. Kitab itu memuat berbagai macam pertanyaan berkisar tentang makna tauhid dalam kaitannya dengan salik (perambah sufi) dan wasil, tentang masalah hudhur, fana, hubungan antara ilmu dan hal, hal dan maqam, dan sebagainya.

Namun, kedukaan menerpanya. Pada usia 28, ayah al-Haddad wafat. Tak lama kemudian, ibunya menyusul, pada tahun yang sama, 1072 H. Selanjutnya, ia diambil oleh salah seorang gurunya, Sayyid ‘Umar bin Abd al-Rahman al-‘Aththas. Di bawah bimbingan gurunya ini, pengetahuan al-Haddad bertambah luas.

Setelah menulis beberapa kitab, pandangan al-Haddad seputar masalah sufistik mulai jadi perhatian. Di antara pandangan sufistiknya adalah, seseorang baru bisa dikatakan sufi apabila amal, perkataan, niat, dan moralnya bersih (shafa) dari berbagai macam penyakit hati, seperti riya’, sum’ah, dan sejenisnya. Secara lahir maupun batin, ia selalu ingat dan taat kepada Allah, serta memutuskan segala sesuatu yang dapat melupakan-Nya, baik itu berkaitan dengan keluarga, harta, kedudukan, maupun lainnya. Seorang sufi melakukan semua itu dengan berdasarkan ilmu, al-Quran, sunnah, serta tuntunan para salaf, yang sampai ke derajat kesempurnaan sebagai sufi.

Batasan sufi ala al-Haddad ini nampak begitu sederhana. Namun, sejatinya susah untuk dicapai. Kiranya, dengan penjelasan itu, ia hendak menyindir para pengaku sufi yang sebenarnya belum mampu mencapai maqam-nya. Sebab, kebanyakan dari mereka masih menggantungkan diri pada dunia, pada harta, jabatan atau pun kekuasaan. Mereka juga masih menuruti nafsu sehingga susah untuk membersihkan diri dari penyakit hati.

Seakan tak mau berhenti, meski telah menghasilkan banyak kitab fenomenal, al-Haddad terus menulis. Pada usianya yang ke-45, ia menulis al-Nasa’ih Al-Diniyyah wa al-Washaya al-Imaniyyah yang membahas masalah akidah, fiqih, dan akhlak. Pembahasannya mengikuti metode penulis kitab Ihya’Ulum Al-Din sehingga kitab ini terkesan sebagai ringkasan kitab besutan al-Ghazali itu. Menginjak 56 tahun, al-Haddad menulis Sabil al-Idzdzikar bi ma yamurru bi Al-Insan wa Yanqadhli lahu min Al-A’mar. Menurut riwayat lain, kitab itu ditulis pada usianya yang ke 60 atau 63.

Pada usia 70 tahun, al-Hadad mulai menyelesaikan tulisannya tentang berbagai aspek kehidupan, baik sosial keagamaan, politik ekonomi maupun lainnya. Pada usia ke-81, tepatnya pada pagi hari Kamis, bulan Dzulqa’dah, tahun 1255 H, ia menyelesaikan kitab Al-Nafais Al-Uluwiyyah fi Al-Masail Al-Shufiyyah. Kitab sufistik ini dinilai lebih berbobot. Di antara masalah yang dibahas adalah al-khawatir (kecondongan-kecondongan) bagi seorang wasil (yang telah sampai kepada Allah) dalam kaitannya dengan masalah al-farq dan al-jam’u, hukum perbuatan seorang arif, al-qutb atau al-ghaus tentang hukum khalwah, ‘uzlah, tentang libas al-firqah, tentang batasan al-shidq dan derajat al-shiddiqiyah, tentang af’al al-ibad, dan lain-lain.

Di samping kitab-kitab tersebut, masih banyak kitab-kitab lain yang ditulisnya. Di antaranya adalah kitab Al-Da’wah Al-Tammah, kitab Al-Majmu’, kitab Al-Fushul Al-Ilmiyyah wa Al-ushul Al-Hikamiyyah, kitab Al-Nafayis Al-Ulwiyah fi Al-Masayil Al-Shufiyyah, kitab Risalatul Adab Suluk al-Murid, Al-Fatawa, Al-Durru Al-Manzhum li Dzawi Al-Uqul wa Al-Fuhum, Al-Hikam, Tatsbit Al-Fua’d, dan masih banyak lagi.

Syaikh Al-Haddad juga dikenal sebagai penyair dalam diwan syairnya, al-Durru al-Manzhum li Dzawi al-Uqul wa al-Fuhum yang disusun berdasarkan abjad. Salah satu syairnya di-syarah-i oleh muridnya, Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi dalam bukunya Syarh Al-Ainiyyat (syarah syair-syair yang berakhiran huruf ‘ain). Dalam syarah ini terlihat jelas tentang siapa saja yang dianggfap salaf oleh al-Haddad dan beberapa pendapatnya tentang masalah sufistik. Sebelum wafat, al-Haddad sempat membaca kitab Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makky. Al-Haddad dimakamkan di pemakaman Zanbal, yang dikenal juga dengan pemakaman al-Fuqara’.

Al-Haddad dikenal sebagai seorang sufi yang mencapai derajat tinggi dalam tasawwuf, baik hal dan maqal-nya. Ia dikenal sebagai pembaharu Thariqat ‘Alawiyyah. Di tangannya, thariqat itu dirumuskan menjadi lebih sistematis dan jelas sehingga dapat dijadikan langkah dasar untuk mempersiapkan diri memasuki pemikiran sufistik kaum khawwash. Al-Haddad juga mampu meletakkan thariqat alawiyyah sebagai penyeimbang pendidikan riyadhah al-Qulub ala Imam al-Syadzili dan riyadhah al-Abdan ala Imam al-Ghazali.
 
Semasa hidupnya, al-Haddad mampu menerjemahkan pemikirannya dalam bahasa masyarakat zamannya sebagaimana tertuang dalam karya-karyanya. Ia dikenal sangat toleran terhadap pola kehidupan beragama. Ia merupakan tokoh pada masanya yang mampu menempatkan diri, baik sebagai da’i, syaikh, maupun pemikir, sehingga ia membumi di masyarakat. Karena itulah, banyak yang menganggap al-Haddad sebagai seorang mujaddid abad ke-17, tokoh pembaharu yang datang tiap 100 tahun.

Imam Ibnu Malik al-Andalusy, Pakar Gramatika Kelas Dunia

Imam Ibnu Malik al-Andalusy, Pakar Gramatika Kelas Dunia

Ia dikenal sebagai ahli gramatika. Kehebatannya diakui ulama sezamannya. Bahkan, menurut catatan sejarah, ia malah melampaui para pendahulunya. Ia menulis banyak kitab. Hampir seluruh karangannya membahas gramatika Arab. Hebatnya, kitabnya tidak hanya naratif, tapi juga berbentuk lagu. Sungguh model tulisan yang susah untuk ditiru. Salah satu karangannya adalah kitab al-Khulashah yang akrab disebut Alfiyyah. Terdiri dari 1002 bait yang disusun rapi sehingga mudah dipahami. Berabad-abad, dalam soal gramatika, kitab ini menjadi rujukan inti. Baik bagi pemula maupun para ahli.

Dialah Imam ibn Malik. Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad ibn Abdillah ibn Malik al-Tho’i al-Jayaniy al-Andalusy. Ia lahir pada 600 Hijriah di daerah Jayyan, Andalusia (Spanyol). Sejak kecil, ia akrab dipanggil Muhammad atau Jamaluddin. Namun, belakangan, ia tenar dengan sebutan Ibnu Malik. Nama Malik dinisbatkan pada kakeknya. Hal itu dilakukan untuk menghormati (taaddub) Nabi Muhammad SAW karena kesamaan nama diri dan orang tuanya dengan Nabi (Muhammad dan Abdullah). Dan, lagi pula, Ibnu Malik memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama kekeknya dari pada ayahnya.

Ibnu Malik dikenal cerdas dan haus ilmu. Ia tekun belajar dan rajin berguru. Ia sempat merantau ke Halab dan Damaskus untuk menimba pengetahuan. Karena itu, ia mempunyai banyak guru. Di antaranya adalah Abu al-Mudhaffar Tsabit ibn Muhammad al-Kula’i (sebagai pembimbing ilmu arabiyyah), Abdullah ibn Malik al-Marsyani (pakar ilmu arabiyyah), Ibn Yaits, Ibn Amrun, Abu al-Abbas Ahmad ibn Nawar, Ibn al-Hajib, Abu Shodiq al-Hasan ibn Shobbah dan sebagainya.

Ibnu Malik dikenal cepat mengingat dan mampu menyerap pengetahuan dengan lekas. Ia mempelajari berbagai ilmu agama. Mulai dari Tafsir, Hadits, Ulumul Qur’an, Fiqh, Nahwu (ilmu tentang cara baca kalam arab) wa Sharf (ilmu tentang derivasi dan perubahan kata Arab) dan lainnya. Ia mampu menghafal Qira’ah Sab’ah beserta alasan-alasannya. Tak luput juga kosakata Arab. Karena itu, ia mampu membedakan kata yang layak pakai atau ditangguhkan. Bahkan, ia sempat menghafal beberapa kalam Arab.

Penguasaannya akan seluk beluk agama dan (khususnya) bahasa Arab memang luar biasa. Karena itu, tak aneh kalau pada perkembangan berikutnya, Ibnu Malik pun tenar sebagai pakar gramatika. Kehebatannya dalam ilmu ini membuat orang tercengang. Baik ulama dahulu maupun generasinya mengakui kemampuannya yang cemerlang. Banyak orang berguru kepadanya. Bahkan, untuk menghormatinya, Imam Ibnu Kholkan, Mufti dan Qadli besar pada saat itu, selalu menjadi ma’mumnya dalam berjama’ah. Tak berhenti di situ, Qadli ini selalu mengawal Ibnu Malik pulang ke rumah.

Kemunculan Ibnu Malik sebagai seorang ulama yang alim dan faqih memang tak bisa lepas dari konteks zamannya. Pada masa itu, situasi sosial-politik-ekonomi di Damaskus sangat mendukung perkembangan pengetahuan. Tak tanggung-tanggung, penguasa waktu itu rela menggelontorkan banyak dana untuk menggerakkan roda peradaban. Pembangunan diprioritaskan pada aspek pendidikan. Para pejabat teras pun tak ketinggalan. Mereka terpacu untuk membangun pusat-pusat pengetahuan.

Kondisi yang kondusif itu pada akhirnya memacu lahirnya banyak karya. Makin maraklah penyusunan dan penerbitan kitab yang meliputi berbagai area. Mulai dari linguistik, akhlaq, sastra dan ilmu agama lainnya. Di saat yang sama, banyak sekolah dan madrasah didirikan. Jumlah muridnya pun sangat besar. Hal ini menantang para pengajar dan ulama untuk membuat teori pengajaran yang memudahkan para murid untuk menghafal dan memahami pelajaran.

Maka, lahirlah berbagai nadham (syi’ir/lagu) dalam penyusunan kitab dari beragam disiplin ilmu. Bahkan, satu ilmu memunculkan variasi lagu. Pilihan pada bentuk nadham ini bukannya tanpa alasan. Sudah menjadi kecenderungan umum, menghafal dalam bentuk lagu lebih mudah dilakukan dari pada menghafal teori dalam bentuk narasi. Hal ini karena nadham-nadham tersebut mengandung nada-nada yang enak untuk dinikmati. Meski di saat yang sama, menyusun nadham juga jauh lebih sulit dari pada menulis narasi.

Dan, Ibnu Malik adalah satu satu pakar nadham pada saat itu. Ia tidak menemukan kesulitan berarti dalam menyusun kitab dengan model ini. Tak syak lagi, beberapa kitabnya pun disusun dalam bentuk nadham. Tak main-main, jangankan ratusan, nadham kitabnya mencapai ribuan. Sebut saja kitab al-Kafiyah al-Syafiyah yang mencapai 2757 bait. Juga kitab al-A’lam bi Mutsallats al-Kalam yang berisi 3000 bait. Sungguh kemampuan yang fenomenal.

Imam Ibnu Malik dikenal produktif menulis banyak kitab. Dan, hampir semua kitabnya berbicara tentang gramatika Arab. Di antaranya adalah al-Umdah dan syarh-nya (penjelasan), al-Tashil dan syarh-nya, Lamiyah al-Af’al, al-Taudhih fi I’rabi Musykilatin min al-Jami’ al-Shohih, al-Nadhmu al-Aujaz dan syarh-nya, al-Fawaid al-Nahwiyyah, ‘Uddatu al-Hafidh wa umdah al-Lafidh fi al-Nahwi, Ijaz al-Ta’ruf fi ‘Ilm al-Tashrif, Sabak al-Mandhum wa fakk al-Makhtum fi al-Nahwi, kitab al-arudl dan sebagainya.

Kitab lainnya yang terkenal adalah al-Khulashah yang kemudian dikenal dengan kitab Alfiyyah ibnu Malik. Kitab ini merupakan ringkasan kitab al-Kafiyah, terdiri dari 1002 bait. Namun, sering disebut 1000 bait karena 2 bait yang tak terhitung adalah contoh-contoh, bukan kaidah inti. Kitab itu membahas detail aturan gramatika Arab. Mulai dari karakterisktik kata benda (isim), kata kerja (fi’il), objek / sasaran (maf’ul) yang punya banyak variasi, harful jarr beserta faidah-faidahnya, aturan membuat plural (jama’), mengucap panggilan (nida’) dan sebagainya. Sebagai kitab gramatika, Alfiyyah terbilang lengkap. Hampir semua aturan bahasa Arab tercakup di dalamnya.
 
Tak hanya itu, bait-bait dalam kitab ini juga menggambarkan sifat manusia. Meski secara leksikal adalah kaidah bahasa Arab, sering kali mengandung isyarat. Di antaranya adalah tentang keberanian mengatasi ketakutan, adab memanggil seseorang, ilmu ladunny (dapat memperoleh pengetahuan tanpa belajar) yang hanya dimiliki sedikit orang, keharusan orang untuk beristiqamah dalam kebaikan dan sebagainya.

Ada cerita menarik seputar kitab ini. Sebagaimana kitab umumnya, kitab ini dimulai dengan muqaddimah (pembukaan) yang terdiri dari 7 bait. Ibnu Malik memulai dengan memuji Allah dan mengucap shalawat kepada Nabi. Dengan rendah hati, pada bait berikutnya, ia menulis bahwa Alfiyyah yang ia susun melampaui kitab Alfiyyah karangan imam ibnu Mu’thi, pakar gramatika sebelum Ibnu Malik (faiqatan alfiyyata ibn Mu’thi). Sampai pada bait ini, ia sempat berhenti karena takut mengidap penyakit sombong (takabbur). Namun, setelah beberapa saat, ia mampu melanjutkan bait kitab ini sampai selesai.

Di Indonesia, kitab ini dibaca hampir seluruh warga pesantren dan sekolah/madrasah untuk mendalami ilmu Nahw dan Sharf. Sebab, kitab ini merupakan salah satu kitab Nahw dan Sharf terlengkap dibanding kitab lain yang umum beredar di Indonesia. Sebut saja kitab al-Ajrumiyyah (karangan imam al-Ajrumy), Umrithy (250 bait) (karangan imam al-’Umrithy) dan Mutammimah (karangan Imam Syamsuddin Muhammad ibn Syaikh Muhammad al-Ro’iny). Kitab Alfiyyah ini menempati urutan teratas, baik kelengkapan maupun tingkat kesulitannya.

Kitab ini banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Salah satu terjemahan yang terkenal adalah karya KH. Bisri Musthofa, ayahanda KH. Musthofa Bisri. Kitab terjemahan ini berbahasa Jawa. Karena bahasanya yang familiar dan mudah dicerna, kitab ini pun menjadi acuan dalam mempelajari Alfiyyah. Sebab, tak jarang, KH. Bisri Musthofa memberikan penjelasan yang mendalam dalam beberapa soal.

Semasa hidupnya, Imam Ibnu Malik mendedikasikan hidupnya untuk membenahi dan meluruskan bahasa Arab. Sehingga, ia didaulat menjadi imam ilm arabiyyah (imam ilmu bahasa Arab). Ia menjadi rujukan dalam soal lughat al-arabiyyah (kosa kata Arab) dan nahw wa sharf.

Kehebatannya diakui oleh para ulama pada masa itu. Di samping ahli gramatika, Ibnu Malik juga dikenal sebagai ahli ibadah. Ia benar-benar menjaga akhlak dan rajin melakukan ibadah sunnah. Ia sempat ditunjuk menjadi imam besar di daerah al-Adiyah.
 
Imam Ibnu Malik wafat pada 672 H, usia 72 tahun. Ia dimakamkan di Damaskus, kota yang menempa dan membesarkan dirinya. Bagi peminat pengetahuan, kepergiannya adalah kerugian yang tak terkira. Ialah ulama besar dengan sumbangsih ilmu yang sangat berharga. Ia telah menulis banyak karya. Penguasaannya akan gramatika membuat namanya terkenal di jagad raya, sebagai pakar gramatika kelas dunia.